oprekmotore

Tanggapan Tabloid Otomotif Atas Perbedaan Hasil Dyno R25


Sungguh cepat respon tabloid Otomotif menanggapi perbedaan hasil dyno sport dua silinder terbaru Yamaha, yaitu R25. Sepertinya memantau juga perkembangan jagad blogsphare roda dua. Setelah OM lama menghilang di karenakan ada proyek dadakan yang akan dibahas pada artikel ke depan, jadi agak kurang bergairah untuk kembali. Tapi adanya perbedaan hasil dyno sport dua silinder yang bikin di awal kemunculannya bikin geger, ditambah sudah adanya respon dari tabloid Otomotif. Gairah langsung memuncak!!Stop...stop! Curhatnya nanti saja, kita fokus ke bahasan. Simak lebih lanjut mas bro mba sist. 

Hasil dyno om Leo
Semua berawal dari om Leo yang sudah menerima Yamaha R25 dan melakukan dyno di atas dyno Dynojet 250i milik Sportisi Motorsport yang notabenenya tempatnya sama dengan pengetesan dari tim Tabloid Otomotif. Namun ternyata hasilnya beda hampir 2dk. 

Hasil dyno om Bie Hau
Om Bie Hau juga melakukan dyno dengan R25 miliknya di tempat yang sama juga dan mengalami hal yang sama seperti om Leo. Kegemparan terjadi di jagad roda dua. Tuduhan miring terhadap pabrikan Garpu Tala mulai diluncurkan. Tidak tinggal diam, pihak Garpu Tala juga sudah memberikan tanggapan.


Naah...kini tabloid Otomotif juga memberikan tanggapan. Dari yang OM tangkap, untuk saat ini baru menanggapi tentang perbedaan tenaga antara unit tes dengan produksi massal. Semoga sesuai janji yang akan mengulas lebih lengkap di edisi berikutnya. Berikut adalah tanggapannya tentang perbedaan hasil dyno.

1. “Soal perbedaan hasil dyno, OTOMOTIF pernah mengulas lengkap di edisi 3:XXIV, masih ingat kan artikel itu? Pada intinya ada beberapa hal yang berpengaruh. Seperti beda tempat, yang tentu beda hasil, apalagi jika beda merk dyno. “Paling penting saat ngedyno jika untuk membandingkan usahakan di satu tempat,” terang Bram, sapaan Brahmantio.


2. Kemudian operator juga berpengaruh, karena bisa beda pada cara ngegas. “Ngegasnya harus konstan, misal jika awalnya di 4.000 RPM, maka berikutnya juga di angka yang sama, “” terang Tomy Huang, bos BRT yang juga sering ngedyno saat riset hasil oprekan.

3. Hal kecil yang juga berpengaruh ke hasil, terutama pada motor bermesin kecil adalah dikasih beban atau tidak. Jika diduduki, artinya dapat beban maka angka yang didapat bisa lebih kecil.

4. Berikutnya suhu kerja mesin juga wajib diperhatikan, untuk mengetahuinya mesti pakai thermometer infrared. Suhu optimal di cylinder head adalah antara 75 derajat sampai 92 derajat celcius. Kalau lebih rendah tentu pembakaran belum optimal, demikian sebaliknya. Jika 2 motor di dyno dengan suhu mesin beda, pasti performa yang dihasilkan juga beda kendati diukur di 1 tempat yang sama. Makanya pemanasan sebelum pengukuran begitu penting, atau dilakukan dengan running berkali-kali terlebih dahulu.


5. Kondisi lingkungan juga punya andil pada performa yang dihasilkan. “Suhu yang rendah dengan kelembapan tinggi punya kadar udara banyak, artinya oksigen tinggi, bikin performa mesin makin optimal,” tambah Tomy

6. Bahan bakar yang dipakai pun tentu saja punya pengaruh besar. “ada 3 hal parameter utama bahan bakar yang berpengaruh pada performa, yaitu RON, density dan nilai kalor. Jika ketiga hal itu beda tentu performa yang dihasilkan juga beda,” terang Tri Yuswidjajanto, dosen Teknik Mesin ITB.

Itulah tanggapan dari tabloid Otomotif. Poin 4-6 masuk akal untuk bisa menjawab kenapa hasil dynonya bisa berbeda. Tapi yang masih jadi pertanyaan adalah kenapa pada produksi massal, setelah 10500rpm, tenaga tertahan dan tidak naik. Padahal pada unit tes, terus bertumbuh hingga mentok di 12000rpm. Semoga Otomotif bisa menepati janjinya untuk bisa memberikan penjelasan lebih detail, amin.


bonus biar aaadeeemmm

Post a Comment

1 Comments

Emoji
(y)
:)
:(
hihi
:-)
:D
=D
:-d
;(
;-(
@-)
:P
:o
:>)
(o)
:p
(p)
:-s
(m)
8-)
:-t
:-b
b-(
:-#
=p~
x-)
(k)